Selasa, 18 November 2014

Ngidam Ketupat Kandangan



MANGIDAM
KATUPAT KANDANGAN






INI PERJALANAN terunik kalau tidak mau dikatakan teraneh yang pernah kami lakukan berdua eh bertiga. Aku, Nisa-isteriku dan Dinda, anak keempat kami. Kami sedang menuju suatu tempat dimana banyak tersedia ketupat, ya ketupat. Tepatnya perjalanan ini mencari ketupat kandangan di Kandangan. Itu yang ku tangkap dari keinginan Nisa setelah dia mengalami kondisi mangidam atau wahmu alias berliur dua. Dan ini bukan perjalanan kami yang pertama dalam rangka memenuhi keinginan yang dalam keadaan normal tidak akan pernah terjadi. Pasalnya Nisa tergolong ibu rumah tangga yang paling doyan masak sendiri. Begitu pula dengan jalan-jalan apalagi hanya sekedar makan-makan. Untuk perjalanan yang relatif jauh lagi. Jarak kota Amuntai ke Kandangan kan tidak dekat. Kira-kira lima enam puluh km dan memakan waktu berjam-jam. 
          Lawaskah lagi sampai bah?” Dinda bertanya dalam bahasa Banjar
          “Satumat lagi nak ae kita sampai ni Pantai Hambawang sudah,” Jawabku meyakinkan gadis kecilku ini.
          “Barapa panya Mauda jarak Amuntai ke Kandangan nih?” tanya Nisa kepadaku.
          “Kada iya ni, mun kada ampat puluh,... lima puluh pal tu ding ae.” ujarku sekenanya.
          “Mun handak pasti maukur saurang ae lih? Nisa bercanda.
          “He he, ... alhamdulillah mun kawa bagaya tu tahanja tu masih.” jawabku yang diam-diam salut dengan daya tahan Nisa yang lebih dua hari tidak makan nasi. Memang selama ngidam tidak pernah masak lagi atau dalam bahasa Banjar kada suah baharaguan lagi. Aroma dapur, bau bawang merah dan bau amis ikan yang membuatnya merasa mual-mual. Alhasil Mauda anak sulungku yang kadang masak di rumah neneknya. Hampir setiap hari untuk makan siang dan malam neneknya mengirim masakan ke rumah. Kadang kami mencari makan di luar. Tradisi wisata kuliner yang sebelum jarang kami lakukan. Kecuali pada kondisi ngidam yang sama pada keempat anak kami sebelumnya.
          Memang Amuntai dan Kandangan merupakan kabupaten yang menjadi destinasi kuliner khas orang Banjar. Kalau Amuntai dikenal dengan itik panggang kada batulang, belibis goreng, sup soto dan gado-gadonya. Sedangkan Kandangan yang paling khas ketupatnya. Makanan khas ini sekarang memang sudah tersebar di Banjarmasin termasuk di kota Amuntai. Sebenarnya tidak terlalu sulit menemukan masakan dengan kuah kental santan balamak ini. Namun karena isteriku kaganangan dengan ketupat yang ada di salah satu rumah makan terkenal di Kandangan, maka pergilah kami ke sana.
          Katupat kandangan merupakan kuliner khas daerah Kandangan, Kalimantan Selatan. Seperti ketupat pada umumnya, yang menggunakan bahan dari beras, katupat kandangan juga demikian. Perbedaannya ada pada lauknya yang menggunakan ikan toman yang di bakar atau di panggang kemudian direbus menggunakan kuah katupat. Masakan ini lazim menjadi teman serapan pagi tapi tidak jarang menjadi santapan siang. Bahkan tidak sedikit menjadikannya teman makan malam.
          “Alhamdulillah, akhirnya kita sampai juga.” ucapku memecahkan lamunan anak isteriku. Mobil kami memasuki parkiran yang disediakan rumah makan ini.
          Kaya rancak ka sinih.” kata Dinda seperti bicara sendiri
          Ingataakan dahulu, nak ae, pabila ka sinih.” kata Nisa sambil menuntun tangan anaknya menuju meja makan. Rumah makan ini memang sering kami kunjungi tapi bukan untuk makan. Melainkan tempat menitipkan makanan ringan ketika kami melakoni usaha rumah kemas. Beberapa jenis makanan ringan, kue kering seperti wadai duduitan, wadai gapit, kueh roko, gipang, walatih, ilat sapi, bunga tambak dan lain-lain. Beragam jenis kacang, seperti kacang gading, kacang telor, kacang arab, kacang thailand, kacang polong, kacang mente dan banyak lagi yang lainnya.
          Iwaknya napa Pa?” tanya pelayan kepadaku.
          Sati parut iwak adalah?” yang kumaksud sate jeroan ikan toman.
          Habis Pa ae, kepalanya ada?” jawab dua pelayan kompak
          Kayapa ding?” tanyaku kepada Nisa
          “Kepalanya barang.” jawab Nisa tanpa ekspresi kecewa sedikitpun
          Aeja kepalanya ja ding ae.” pesanku kepada pelayan. Sambil menunggu ketupat disajikan kami seperti bernostalgia. Apalagi beberapa keranjang yang kami tinggalkan masih terpajang dan dipakai sebagai tempat makan ringan tersusun rapi.
          “Hampir dua tahun kita menjalani usaha rumah kemas itu.” ucapku parau dan hanya didengar oleh Nisa
          “Cukup serius.” jawab Nisa.
          “Ya ...” aku menatap wajah isteriku dalam-dalam. Aku teringat betapa serius kami merintis usaha itu. Usaha dengan badan hukum perseroan komanditer. Dengan nama yang cukup idealis.  Kerja keras dan penuh pengorbanan. Namun kami lengah.
          “Oksigen Anak Banua, yang justru membuat kita hampir kehabisan oksigen.” ucapku mengenang usaha yang dilandasi obsesi kami memiliki tempat belajar yang memadukan kegiatan akademik dengan kewirausahaan untuk anak-anak yang rentan putus sekolah. Kami menyebutnya “Rumah Insan Belajar”. Impian kami peserta didik usia belajar sekolah menengah pertama dan menengah atas tertampung ditempat ini.
          “Kada papa yang penting niat dan kesungguhannya.” kata Nisa
          “Ya betul, hasilnya bukan wilayah kita.” kataku membulak-balik hati.
          “Terima kasih.” ucap Nisa kepada pelayan yang mengantarkan pesanan kami.
          “Seperti hari ini niat dan usaha kita mencari isi perutnya.” ucapku
          “Yang dapat malah kepala.” sambung Nisa
          Memang sebenarnya yang kami tuju secara khusus adalah sate jeroan iwak tauman. Lauknya ini yang paling khas bagi penikmat katupat kandangan. Cara makannya pun bagi kelompok pecandu katupat tidak memerlukan senduk dan garpu. Melainkan menggunakan senduk Tuhan, senduk alami alias dengan tangan. Unik bukan? Tapi karena kami bukan pecandu katupat kandangan, maka masih menggunakan senduk dan garpu. Begitu pula dengan sate jeroan inipun dicari karena pas isteri lagi ngidam. Pilihan lauknya ada iwak tauman, daging, ekor dan kepalanya. Telur itik asin alias hintalu jaruk. Sedangkan sate jeroan toman ini lauk yang paling khusus.
          Tauman sebutan urang banjar terhadap toman, sejenis ikan buas dari suku ikan gabus (Channidae) atau haruan. Ikan paling populer di Kalimantan ini memiliki bentuk persis ikan gabus. Namun toman dapat tumbuh besar melebihi gabus, yakni mencapai satu setengah meter. Ikan dengan nama ilmiah Channa Micropeltes ketika muda memiliki tubuh dan kepala menyerupai ular. Karena itu dalam bahasa Inggris sering disebut red snakehead, redline snakehead. Toman dewasa berwarna hitam kebiruan, dengan perut keputihan. Kepalanya besar juga mulutnya dengan gigi runcing nan tajam. Tubuh bulat panjang seperti torpedo dan ekor membulat. Sedang anakan atau anak-anaknya tumbuh pesat memiliki warna kemerahan dengan garis hitam dan jingga di sisi tubuhnya. Kondisi ini yang membuat pemula merasa ragu untuk memakannya. Mirip ular dan terkesan buas.
          Mengapa toman terkesan buas? Karena toman tergolong predator yang suka memangsa sesama ikan. Ikan ini juga doyan memakan jenis serangga dan kodok. Bahkan ikan ini tidak segan-segan menyerang anak itik atau anak belibis yang lagi berenang.
          Walaupun terkesan buas ikan toman tergolong ikan yang menyayangi anak-anak. Ikan ini mempunyai kebiasan ‘mengasuh’ anak-anaknya. Induknya berenang bersama-sama anak-anaknya dan menjaganya dengan telaten. Ia tidak segan-segan menyerang siapa saja yang mengganggu anak-anaknya. Atau berenang terlalu dekat yang dikhawatirkan mengganggu atau mengambil anak-anaknya. Perilaku unik ikan ini akhirnya menjadi inspirasi warga yang ingin menangkapnya. Sebagai mata pencaharian atau sekedar hoby. Kesukaan ini menjadi inspirasi masyarakat banjar dalam mencari ikan. Seperti kesukaannya makan serangga dimanfaatkan oleh para pemancing (maunjun). Kesenangannya makan kodok dimanfaatkan oleh pembanjur (membanjur) dan pemair (mamair). Kecenderungannya memangsa anak itik dan anak belibis menjadi inspirasi bagi pengacar (mengacar). [mh]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar